Rabu, 12 Maret 2014

Language,Gender,Ethnicity,Culture

BAHASA

Bahasa adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia di atas dunia ini, karena dengan bahasa orang bisa berinteraksi dengan sesamanya dan bahasa merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Adapun bahasa dapat digunakan apabila saling memahami atau saling mengerti erat hubungannya dengan penggunaan sumber daya bahasa yang kita miliki. Kita dapat memahami maksud dan tujuan orang lain berbahasa atau berbicara apabila kita mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan. Dibawah ini ada beberapa pengertian bahasa menurut ahli :
Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli
1. Pengertian Bahasa menurut (Depdiknas, 2005: 3)Bahasa pada hakikatnya adalah ucapan pikiran dan perasan manusia secara teratur, yang mempergunakan bunyi sebagai alatnya.
2. Pengertian Bahasa menurut Harun Rasyid, Mansyur & Suratno (2009: 126) bahasa merupakan struktur dan makna yang bebas dari penggunanya, sebagai tanda yang menyimpulkan suatu tujuan.
3. Sedangkan bahasa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Hasan Alwi, 2002: 88) bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh semua orang atau anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri dalam bentuk percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun yang baik.
Kesimpulan Pengertian Bahasa menurut ahli
Berdasarkan beberapa pengertian bahasa tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian bahasa adalah sistem yang teratur berupa lambang-lambang bunyi yang digunakan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran bahasa tersebut.
Nah dalam arti dari pengertian bahasa tersebut, hal ini menonjolkan beberapa segi sebagai berikut:
1. Bahasa adalah sistem. Maksudnya bahasa itu tunduk kepada kaidah-kaidah tertentu baik fonetik, fonemik, dan gramatik. Dengan kata lain bahasa itu tidak bebas tetapi terikat kepada kaidah-kaidah tertentu.
Gambar 1. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2014: http://asosiasitradisilisan.blogspot.com/2012/05/k-j-i-n-f-o-l-k-o-r.html

2. Sistem bahasa itu sukarela (arbitary). Sistem berlaku secara umum, dan bahasa merupakan peraturan yang mendasar. Sebagai contoh: ada beberapa bahasa yang memulai kalimat dengan kata benda seperti Bahasa Inggris, dan ada bahasa yang mengawali kalimatnya dengan kata kerja. Dan seseorang tidak dapat menolak aturan-aturan tersebut baik yang pertama maupun yang kedua. Jadi tidak tunduk kepada satu dialek tertentu.
Gambar 2. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2014: http://netsains.net/2008/12/bahasa-indonesia-menjadi-bahasa-peradaban-dunia/

3. Bahasa itu pada dasarnya adalah bunyi, dan manusia sudah menggunakan bahasa lisan sebelum bahasa lisan seperti halnya anak belajar berbicara sebelum belajar menulis. Di dunia banyak orang yang bisa berbahasa lisan, tetapi tidak dapat menuliskannya. Jadi bahasa itu pada dasarnya adalah bahasa lisan (berbicara), adapun menulis adalah bentuk bahasa kedua. Dengan kata lain bahasa itu adalah ucapan dan tulisan itu merupakan lambang bahasa.
Gambar 3. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2014: http://netsains.net/2008/12/bahasa-indonesia-menjadi-bahasa-peradaban-dunia/

4. Bahasa itu simbol. Bahasa itu merupakan simbol-simbol tertentu. Misalnya kata ”rumah” menggambarkan hakikat sebuah rumah. Jadi bahasa itu adalah lambang-lambang tertentu. Pendengar atau pembaca meletakkan simbol-simbol atau lambang-lambang tersebut secara proporsional.
Gambar 4. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2014: http://geometryarchitecture.wordpress.com/2013/03/24/interpretasi-jari-dalam-bahasa-isyarat/

5. Fungsi bahasa adalah mengekspresikan pikiran dan perasaan. Jadi tidak hanya mengekspresikan pikiran saja. Peranan bahasa terlihat jelas dalam mengekpresikan estetika, rasa sedih senang dalam interaksi sosial. Dalam hal ini mereka mengekspresikan perasaan dan bukan pikiran. Karena itu bahasa itu mempunyai peranan sosial, emosional disamping berperan untuk mengemukakan ide.

GENDER

Kata Gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (John M. echols dan Hassan Sadhily, 1983: 256). Secara umum, pengertian Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.


Istilah “gender” yang berasal dari bahasa Inggris yang di dalam kamus tidak secara jelas dibedakan pengertian kata sex dan gender. Untuk memahami konsep gender, perlu dibedakan antara kata sex dan kata gender.



Sex adalah perbedaan jenis kelamin secara biologis sedangkan gender perbedaan jenis kelamin berdasarkan konstruksi sosial atau konstruksi masyarakat. Dalam kaitan dengan pengertian gender ini, Astiti mengemukakan bahwa gender adalah hubungan laki-laki dan perempuan secara sosial. Hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan dalam pergaulan hidup sehari-hari, dibentuk dan dirubah.

Gambar 5. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2013: http://fikomuntarkapsel.blogspot.com/2010/04/persamaan-perbeddan-gender.html




Secara umum, pengertian Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.


ETIKA

Etika berasal dari istilah etik, istilah ini berasal dari bahasa Greek yang mengandung arti kebiasaan atau cara hidup.K Bertens dalam buku etikanya menjelaskan lebih jelas lagi. Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput; kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak artinya adalah adat kebiasaan.

Gambar 6. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2013: http://www.docstoc.com/docs/45722694/KULIAH-DASAR-ETIKA-MEDIS


Etika sering diidentikan dengan moral (atau moralitas). Namun, meskipun sama-sama terkait dengan baik-buruk tindakan manusia, etika dan moral memiliki perbedaan pengertian. Moralitas lebih condong pada pengertian nilai baik dan buruk dari setiap perbuatan manusia itu sendiri, sedangkan etika berarti ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk. Jadi bisa dikatakan, etika berfungsi sebagai teori tentang perbuatan baik dan buruk. Dalam filsafat terkadang etika disamakan dengan filsafat moral.
Etika membatasi dirinya dari disiplin ilmu lain dengan pertanyaan apa itu moral? Ini merupakan bagian terpenting dari pertanyaan-pertanyaan seputar etika. Tetapi di samping itu tugas utamanya ialah menyelidiki apa yang harus dilakukan manusia. Semua cabang filsafat berbicara tentang yang ada, sedangkan filsafat etika membahas yang harus dilakukan.
Selain itu etika bisa disebut sebagai ilmu tentang baik dan buruk atau kata lainnya ialah teori tentang nilai. Dalam Islam teori nilai mengenal lima ketegori baik-buruk, yaitu baik sekali, baik, netral, buruk dan buruk sekali. Nilai ditentukan oleh Tuhan, karena Tuhan adalah maha suci yang bebas dari noda apa pun jenisnya. Tetapi tujuan etika itu sendiri ialah bagaimana mengungkap perbedaan kebaikan dan keburukan sejelas-jelasnya sehingga mendorong manusia terus melangkah pada kebaikan.
Kebaikan itu sendiri –menurut ibn Sina- sangat erat kaitannya dengan kesenangan. Kebaikan itu membuat manusia lebih sempurna dalam suatu hal. Kebaikan terbaik berkaitan dengan kesempurnaan roh manusia. dengan demikian kejahatan merupakan sejenis ketidak sempurnaan.

BUDAYA

Kebudayaan adalah cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial (masyarakat) dalam suatu ruang dan waktu.
Kebudayaan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan kepercayaan seni, moral, hukum, adat serta kemampuan serta kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kebudayaan merupakan hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya yaitu masyaraakat yang menghasilkan tekhnologi dan kebudayaan kebendaan yang terabadikan pada keperluan masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia yaitu kebijaksanaan yang sangat tinggi di mana aturan kemasyarakatan terwujud oleh kaidah-kaidah dan nilai-nilai sehingga denga rasa itu, manusia mengerti tempatnya sendiri, bisa menilai diri dari segala keadaannya.

Gambar 7. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2014: http://d-onenews.com/blog/pawai-budaya-2012-gubernur-tekankan-tema-budaya-jatim/

Kebudayaan sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, begitu pula sebaliknya. Di dalam pengembangan kepribadian diperlukan kebudayaan, dan kebudayaan akan terus berkembang melalui kepribadian tersebut. Sebuah masyarakat yang maju, kekuatan penggeraknya adalah individu-individu yang ada di dalamnya. Tingginya sebuah kebudayaan masyarakat dapat dilihat dari kualitas, karakter dan kemampuan individunya.
Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang saling berkaitan. Manusia dengan kemampuan akalnya membentuk budaya, dan budaya dengan nilai-nilainya menjadi landasan moral dalam kehidupan manusia. Seseorang yang berperilaku sesuai nilai-nilai budaya, khususnya nilai etika dan moral, akan disebut sebagai manusia yang berbudaya. Selanjutnya, perkembangan diri manusia juga tidak dapat lepas dari nilai­nilai budaya yang berlaku.
Kebudayaan dan masyarakatnya memiliki kekuatan yang mampu mengontrol, membentuk dan mencetak individu. Apagi manusia di samping makhluk individu juga sekaligus makhluk sosial, maka perkembangan dan perilaku individu sangat mungkin dipengaruhi oleh kebudayaan. Atau boleh dikatakan, untuk membentuk karakter manusia paling tepat menggunakan pendekatan budaya.


Sumber :

  1. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2014: http://www.kajianteori.com/2013/03/pengertian-bahasa-apa-arti-bahasa-menurut-ahli.html
  2. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2014: http://aldyforester.wordpress.com/2013/03/24/pengertian-dan-fungsi-bahasa/
  3. Diunduh pada tanggal 13 Maret 2014: http://curbisica.blogspot.com/2011/09/pentingnya-penggunaan-bahasa-indonesia.html
  4.  Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: Widya Karya, 2005).
  5. Kusumohamidjojo, Filsafat Kebudayaan; Proses Realisasi Manusia,(Yogyakarta: Jalasutra, 2010). Islam dan Budaya Lokal, (Yogyakarta: Teras, 2009). 
  6.  Bertens, K. 1993. Etika. Jakarta: Gramedia
  7.  Poespoprodjo. 1999. Filsafat Moral Kesusilaan Teori dan Praktek. Bandung: Pustaka Grafika


Jumat, 07 Maret 2014

Metode Survei dan Metode Etnografi

Selamat malam semuanya,kali ini saya akan membahas perbedaan antara metode survei dan metode etnografi,keduanya ini sering digunakan seorang antropolog dalam melakukan suatu penilitian. Pada dasarnya keduanya merupakan sebuah metode dalam pengumpuan data namun ada beberapa perbedaan diantara keduanya.
Yg pertama saya akan membahas tentang metode surveri,yaitu suatu metode pengambilan data dengan cara memberikan kuisioner atau melakukan interview dan datanya bersifat kualitatif sedangkan metode etnografi adalah metode penelitian kualitatif yang sering digunakan dalam ilmu sosial seperti antropologi.
Ada beberapa perbedaan antara metode survei dan metode etnografi,yaitu:

Metode survei:
  • Datanya kualitatif
  • Dilakukan di masyarakat yang modern yang melek huruf
  • Peneliti tidak memiliki kontak langsung dengan objek yang diteliti,biasanya menggunakan wawancara dan menyebarkan kuisioner
  • Tidak melakukan penelitian secara mendalam
  • Hasi penelitian harus dianalisis dengan statistika karena banyaknya data
Metode etnografi:
  • Datanya kuantitatif
  • Peneliti harus terlibat langsung dalam melakukan penelitiannya
  • Peneliti harus memiliki ikatan yang kuat terhadap objek yang akan diteliti
  • Peneliti mempelajari seluruh segmen masyarakat
  • Hasil penelitian tidak harus dianalisis dengan statistika
Demikian posting dari saya,mudah-mudahan membantu dalam mempelajari perbedaan etnografi dan metode survei. Terima kasih.

Sumber:
  1. Diunduh pada 06 Maret 2014: http://museumgeologiku.blogspot.com/2010/09/metode-etnografi-untuk-penelitian.html
  2. Diunduh pada 06 Maret 2014: http://antropologiui.wordpress.com/2011/06/01/rancangan-penelitian-etnografi-menurut-creswell/

Senin, 03 Maret 2014

Hubungan antara Antropologi,Psikologi,Sosiologi

Mengingat dari judulnya saja apa ada hubungan antropologi dengan ilmu sosial lain terutama sosiologi dan psikologi. Dilihat sepintas memang tidak ada beda antara ketiganya. Tapi siapa sangka di dalamnya terdapat perbedaan yang perlu dilihat lagi. Sebelum kita membahas apa sih hubungan ketiganya? Terlebih dahulu kita harus tahu apa itu antropologi, sosiologi dan psikologi. Kemudian kita bisa mengetahui hubungan antara ketiganya.
Dalam perkembangannya pada permulaan abad ke-20 ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dan tujuannya dapat dirumuskan sebagai berikut yaitu mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks. (1990, p.4). Adapun menurut Koentjaraningrat berpendapat bahwaantropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan
Sebaliknya, sejarah perkembangan ilmu sosiologi menyebabkan bahwa ilmu itu sejak mula hingga sekarang tertuju kepada obyek-obyek penelitian dalam masyarakat dan kebuayaan bangsa-bangsa yang hidup dalam lingkngan kebudayaan Ero-Amerika. Auguste Comte berpendapat bahwa sosiologi adalah suatu studi positif tentang hukum-hukum dasar dari berbagai gejala sosial yang dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis (1990, p.28). Menurut Pitirim Sorokin: sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat  secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung. Dengan kata lain psikologi bisa diartikan sebuah proses tingkah laku seseorang.
Setelah mengetahui pengertian di atas dapat terlihat perbedaan antara ketiganya yang mana memiliki peran ilmu yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Salah satu contoh hubungan antara antropologi, sosiologi dan psikologi adalah ketika seseorang yang tinggal di pedesaan berpindah tempat di perkotaan. Dari perpindahan ini sudah jelas terlihat ada aspek dari antropologi, sosiologi dan psikologi seseorang tersebut. Dimana di dalamnya terdapat proses adaptasi di tempat baru. Adanya adaptasi mau tidak mau orang tersebut harus menyesuaikan dirinya supaya bisa bertahan di tempat barunya. Disisi lain kebudayaan yang ada di pedesaan dan perkotaan tentu berbeda yang mana hal ini dilihat dari aspek antropologinya. Sudah jelas hubungan antara ketiganya memang bisa dirasakan adanya dan memang saling terkait.
Antropologi mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lainnya seperti psikologi,sosiologi karena Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etis tertentu; Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental; Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan.,sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentangmasyarakat..

.Ilmu Antropologi dengan Ilmu Psikologi

Sebagaimana yang diketahui antropologi mempelajari tentang manusia dan psikologi menyelidiki pengalaman dan tingkah laku manusia. Adanya hubungan yaitu dengan menggunakan analisa psikologi,
maka ilmu antropologi dapat menganalisa secara mendalam apa saja yang terjadi di masa lalu. Bantuan psikologi terhadap antropologi sangatlah besar,sehingga dalam perkembangannya yang terakhir ,lahir suatu  sub ilmu atau spesialisasi dari antropologi yaitu etnopsikologi atau antropologi psikologikal atau juga kebudayaan dan kepribadian.Selain itu hubungan psikologi dengan antropologi menghasilkan suatu cabang antropologi yang lain yaitun anthropology in mental health.Antropologi psikologis adalah  antropologi yang bersifat interdisipliner dan mengkaji interaksikebudayaan dan proses mental. Cabang ini terutama memperhatikan cara perkembanganmanusia dan enkulturasi dalam kelompok budaya tertentu-dengan sejarahbahasa, praktik, dan kategori konseptualnya sendiri-membentuk proses perolehan kognisiemosi,persepsimotivasi, dan kesehatan mental. Juga memeriksa tentang bagaimana pemahaman kognisi, emosi, motivasi, dan proses psikologis sejenis membentuk model proses budaya dan sosial. Setiap aliran dalam antropologi psikologis memiliki pendekatannya sendiri-sendiri.
Beberapa aliran dalam antropologi psikologis:
1.                  Antropologi psikoanalitis
2.                  Kebudayaan dan Kepribadian
3.                  Etnopsikologi
4.                  Antropologi kognitif
5.                  Antropologi psikiatris
Antropologi dan psikologi saling berhubungan dalam penyelidikannya.Sejak setengah abad lalu, di Amerika dan Inggris telah berkembang berbagai penelitian antropologi yang alam analisisnya menggunakan banyak konsep psikologi. Tiga masalah yang menjadi fokus perhatian antropologi:
1.      ‘kepribadian bangsa’
2.      Peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat
3.      Nilai universal dalam
4.      Persoalan ‘kepribadian bangsa’  à    sesudah perang Dunia ke-1   à    hubungan antar bangsa kian intensif, perhatian penjajah terhadap kepribadian bangsa jajahan.Fokus studi antropologi awal tahun 1920-an : Ahli antropologi tertarik pada lingkungan dan kebudayaan dari bayi dan anak-anak, masa itu dianggap penting bagi pembentukan kepribadiandewasa yang khas dalam suatu masyarakat.Hampir semua penelitian yang mendalami “kepribadian bangsa” menyimpulkan bahwa ciri-ciri kepribadian yang tampak berbeda pada bangsa- bangsa di dunia ini bersumber pada cara pengasuhan pada masa kanak-kanak.
Misalnya: orang jepang yang dewasa menjadi bersifat memaksakan kehendaknya, karena ketatnya latihan mengenai cara membuang air pada masa kanak-kanak

Ilmu Antropologi dengan Ilmu Sosiologi

            Sosiologi membantu ilmu antropologi dalam mempelajari susunan kemasyarakatan, latar belakang, serta kebudayaan manusia dan pola kehidupan manusia. Sehingga dengan adanya sosiologi dapat mempermudah sarjana dalam mengkaji ilmu antropologi. Objek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia terutama dari sudut hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Keduanya adalah cabang ilmu sosial yg mempelajari tentang manusia,tingkah laku dan interaksi antar manusia yg satu dgn manusia yg lain.bedanya adalah antropologi mengkhususkan pada budaya manusia di dalam suatu masyarakat tertentu, sedangkan sosiologi lebih ke arah mempelajari kehidupan sosial dalam masyarakat secara umum.

Sumber:
1.diunduh pada 02 Maret 2014: http://wulansetiawan.blogspot.com/2012/08/hubungan-antropologi-dengan.html, Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Penerbit PT. Rineka Cipta
2.Roger.M.Kessing. Samuel Gunawan. Antropologi Budata: Suatu Perspektif Kontemporer. Edisi Kedua Jilid 2. Jakarta: Erlangga



Welcome to Psychology A3P

Apasih "A3P"?? Kenapa "A3P" ? Pertanyaan yang pasti muncul ketika membuka blog saya ya? jadi A3P adalah singkatan dari nama kelompok kami. Didalam pembelajaran filsafat kami mempunyai sebuah kelompok nah di dalam kelompok kami beranggotakan "A"gatha "A"bhyani "A"dha (Sandy) dan "Pramesti".
Perkenalan lagi deh sekalian visit blog kami masing-masing ya.......disini ada

Agatha Ratih Christianti   : " agathata.blogspot.com"
Abhyani Prastika             : " prastikabhyani.blogspot.com "
Adha Sandy P                : " sinonimkematian.blogspot.com "

PramestiWidyapriani       : " pramestiwidyapriani.blogspot.com "